Bantuan Sembako Dirasakan Belum Merata, Harga Beras Tembus Rp1 juta Perkarung


DONGGALA-  Meski bantuan terus berdatangan dari penjuru daerah namun tidak sedikit dari pengungsi pesisir barat kabupaten Donggala, tepatnya di lapangan bola  Pantoloan mengaku masih kesulitan mendapatkan pasokan sembako.  

"Disini harga beras Rp 1 juta sekarung ukuran 50 Kg, itupun susah didapat karena toko belum banyak yang buka," ujar Nur (52) didampinggi Arpa suaminya, kepada tim relawan PWI Babel dilokasi pengungsian, Selasa (9/10).

Dikatakannya, saat ini para pengungsi korban gempa dan tsunami sangat membutuhkan sembako, selimut, pakaian layak pakai, tenda dan obat obatan termasuk perlengkapan bayi dan air bersih.

Tak jauh berbeda  dirasakan para pengungsi yang bermukim di SMPN 2 Sindue, Desa Lero Tatari, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Sebanyak 475 Kepala Keluarga (KK), diantaranya terdapat 175 balita dan 149 lansia juga mengaku kesulitan mendapatkan bantuan kebutuhan pokok.
Kondisi ini dialami para pengungsi sejah hari pertama pasca gempa dan tsunami melanda.

" Hari pertama sampai hari kelima itu sulit dapat barang untuk makan, harga beras itu sejuta sekarung, itu ndak ada yang jual. Baru sekarang ini harga beras agak murah, sekarung sudah bisa dapat sekitar Rp 700.000 – 800.000 / karung, harga telur Rp 100.000 / rak,” ungkap Mirnawati, Selasa malam.

Musdalifa mengungkapkan, sampai hari ini belum ada yang memberika trauma healing. Suplay bantuan sudah diterima baru TNI dan Pertamina dengan tim medis. Bantuan yang disalurkan oleh TNI berupa Mie Instan, dan beras satu liter per kepala keluarga.

“Kami disini sulit dapat sembako, selimut, tenda, obat – obatan, susu bayi, karena toko eceran belum banyak yang buka pak,” imbuhnya.

Selain kesulitan bahan pokok, pengungsi juga kesulitan air bersih. Pengungsi hanya mengandalkan air sungai Salubay dan sungai Lembana.

Sementara Hamid, salah satu koordinator pengungsi di Posko SMPN 2 SINDUE mengatakan, warga yang ditampung dan mengungsi disini rata – rata rumahnya rusak parah atau rata dengan tanah.

“Rata – rata pengungsi disini rumahnya rusak berat, ada juga yang rata dengan tanah. Listrik saja baru dua malam ini agak normal,” jelasnya.

Tim relawan dari PWI dan SMSI Babel yang didampingi Sekretaris SMSI Sulteng, akan terus melakukan pemetaan dan pemantauan kondisi korban gempa dan tsunami di Pesisir Pantai Barat, khususnya di Kabupaten Donggala. (**l)





Berikan Komentar

Nusantara Lainnya
Direktorat Lalu Lintas Terapkan Tilang Elektronik Mulai 1 November
Direktorat Lalu Lintas Terapkan Tilang Elektronik Mulai 1 November
Senin, 15/10/2018 13:07 WIB
JAKARTA - Pihak Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya memastikan penindakan tilang elektronik terhadap pengendara yang melanggar aturan diberlakukan mulai
Erzaldi : Semoga Lekas Sembuh Pak Arub
Erzaldi : Semoga Lekas Sembuh Pak Arub
Senin, 15/10/2018 11:38 WIB
PALEMBANG - Gubernur Babel Erzaldi Rosman didampinggi Hj Melati dan Sekda Babel Yan Megawandi beserta Kadispora Babel, Suharto membesuk Walikota
Kesepakatan Fee Proyek Jalan Masuk KPK  OTT Walikota Pasuruan
Kesepakatan Fee Proyek Jalan Masuk KPK OTT Walikota Pasuruan
Jum'at, 05/10/2018 14:28 WIB
JAKARTA - Wali Kota Pasuruan 2016-2021 Setiyono diduga menerima suap melalui orang-orang dekatnya yang memiliki sebutan "Trio Kwek-Kwek".
Unicef Siap Bantu Pemulihan Psikologis Korban Gempa - Tsunami
Unicef Siap Bantu Pemulihan Psikologis Korban Gempa - Tsunami
Jum'at, 05/10/2018 14:14 WIB
JAKARTA - Badan PBB yang menangani masalah anak, Unicef akan ikut membantu pemulihan psikologis anak-anak korban gempa bumi dan