Plastik dan Kertas Diolah jadi Ornamen Akuarium Bernilai ekonomi


Plastik dan Kertas Diolah jadi Ornamen Akuarium Bernilai ekonomi

SEKILAS, pria 31 tahun ini biasa saja. Memakai kaos oblong dan celana pendek. Pakaian itu sangat nyaman dikenakan saat bekerja membuat ornamen. Sementara itu di salah satu ruangan di rumahnya, ada beberapa bahan daur ulang ditumpuk di pojokan ruangan. Bahan-bahan itulah yang disulap menjadi ornamen akuarium bernilai ekonomi tinggi.
    
Warga RT 3/RW IV Desa/Kecamatan Wedarijaksa Pati, ini sudah menjadi perajin ornamen akuarium sejak lima tahun lalu. Sejak 2012 hingga sekarang, pekerjaan itu dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
    
Komarudin menceritakan awal mula beralih profesi menjadi perajin ornamen akuarium dari bahan bekas. Sebelumnya, ia hanyalah serabutan. Karena suka memelihara ikan di akuarium, ia mencoba untuk membuat ornamen akuarium secara otodidak.
  
 "Dulunya saya sering buat kaligrafi, namun kurang menjanjikan. Kemudian beralih ke perajin ornamen akuarium ini. Saya tertarik menjadi perajin akuarium karena suka dan masih banyak warga yang tertarik dengan ornamen akuarium karena bisa mempercantik penampilan akuarium," kata Komarudin kemarin (19/12).
    
Selain menambah nilai estetika, fungsi ornamen tersebut juga sangat bermanfaat bagi kesehatan ikan agar tidak mudah stres, sekaligus sarana pelindung bagi ikan-ikan kecil. Setelah menentukan pilihannya, Komarudin belajar sendiri dan memanfaatkan barang bekas.
    
"Karena di sekitar saya masih banyak bahan-bahan bekas tidak terpakai, jadi saya coba saja membuat ornamen dari bahan bekas. Meskipun bahan baku paling utama pasir dan semen, saya juga menggunakan bahan bekas yang paling banyak digunakan membuat ornamen akuarium yakni dari plastik bungkus ikan dan bekas kertas semen," katanya.
    
Dari bahan-bahan itu, disulap menjadi sebuah ornamen akuarium yang kini banyak dipesan oleh warga Pati dan sekitarnya.  Sulung dari tiga bersaudara ini menambahkan, pemesan ornamen itu tidak hanya warga Pati saja, juga sudah merambah ke Semarang dan sekitarnya. Selain itu dijual ke pengecer di Pati dan dipasarkan ke Kudus, Demak, dan daerah lainnya.
    
Dalam pengerjannya, dia harus bekerja ekstra hingga larut malam untuk memenuhi banyaknya permintaan pasar dengan dibantu kedua saudaranya. Setiap bulan, dirinya bisa memproduksi hingga 600 ornamen akuarium dengan berbagai bentuk.
    
"Kalau bentuknya macam-macam ada yang berbentuk benteng, tembok, bambu, jembatan dan sebagainya. Tapi yang pasti ada sembilan jenis ornamen. Satu item ornamen saya jual ke pengecer mulai harga Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu, tergantung tingkat kerumitannya," tuturnya.
    
Dia menambahkan, harga tersebut bisa lebih mahal jika dibeli dengan satuan. Kedepan, pria lulusan MTs ini ingin terus meningkatkan kreasi dan membuat model baru sesuai dengan perkembangan zaman. Serta usahanya ini mampu bermanfaat bagi banyak orang.(ks/him/top/JPR)





Berikan Komentar

Edukasi Lainnya
Neysa, Siswi SD Penderita Tumor Ganas Harapkan Bantuan
Neysa, Siswi SD Penderita Tumor Ganas Harapkan Bantuan
Selasa, 16/01/2018 15:10 WIB
Neysa, Siswi SD Penderita Tumor Ganas Harapkan Bantuan Berprestasi di Sekolah, Namun Lumpuh Kaki Kirinya Tetesan air mata seakan tak bisa
Legislator Biak Tuntut Penyelesaian Honor Guru Kontrak
Legislator Biak Tuntut Penyelesaian Honor Guru Kontrak
Senin, 15/01/2018 13:54 WIB
KETUA Komisi III DPRD Kabupaten Biak Numfor, Papua Benyamin Maran meminta jajaran Dinas Pendidikan Biak untuk menyelesaikan tuntutan pembayaran status
Undiksha Mencatat Rekor Muri Tari Pendet Disabilitas
Undiksha Mencatat Rekor Muri Tari Pendet Disabilitas
Senin, 15/01/2018 13:51 WIB
SINGARAJA - Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali mencatat rekor di Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk tari pendet disabilitas massal
Anak Putus Sekolah Dasar di Bateng 0,33 Persen
Anak Putus Sekolah Dasar di Bateng 0,33 Persen
Senin, 15/01/2018 13:46 WIB
KOBA - Data terakhir yang telah dihimpun oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel),