Anak Kuli Batu Bisa Terbangkan Pesawat


Anak Kuli Batu Bisa Terbangkan Pesawat

Tak Pernah Sama Sekali Naik Pesawat Karena Tak Punya Uang

Kesuksesan itu milik siapa saja. Tidak peduli kaya atau miskin. Berkat beasiswa pendidikan dari Pemkot Surabaya, pemuda dari keluarga tak mampu ini berhasil menjadi pilot Citilink.

Septinda Ayu Pramitasari, Surabaya

TUTIK Sulasmi terus memandangi putranya, Rizal Awalludin Adiansyah, di kediamannya, kawasan Bulak Banteng Baru Kemuning, 10 November. Tatapan bangga ketika melihat anak pertamanya mengenakan seragam pilot. Sedikit tidak percaya.
Perempuan 44 tahun itu tidak berhenti menatap Rizal. Kali ini matanya mulai nanar. Bukan marah atau sedih, melainkan bahagia.

”Dulu, kamu masih anak kecil yang suka mengajar ngaji, Nak,” kata Tutik kepada Rizal membuka pembicaraan siang itu. Rizal yang tidak banyak bicara terus tersenyum. ”Kamu juga yang suka bantu bapak angkat-angkat batu,” ucapnya kembali.

Syahdan Sudjono, ayah Rizal, juga ikut bahagia. Dia duduk di depan pintu sambil menyaksikan percakapan istri dan anaknya itu. Kedua adik Rizal ikut berkumpul di ruang tamu yang sempit tersebut. Mereka terlihat sangat bersyukur. ”Pokoknya, jangan pernah tinggalkan salat ya,” kata Tutik mengingatkan. Rizal menganggukkan kepala tanda setuju. ”Insya Allah, Bu. Doakan terus ya,” balas Rizal.

”Jangan pernah malu. Dan, jangan lupa masa lalu,” tutur Tutik yang terus memberi petuah. Ya, Rizal kini sudah tumbuh dewasa. Dia adalah anak seorang kuli batu yang mendapatkan beasiswa pendidikan pilot dari pemkot. Dia juga telah lulus dari Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (BP3B).

Kini laki-laki kelahiran 7 Februari 1997 itu direkrut menjadi calon pilot Citilink bersama empat pemuda Surabaya lainnya. Bulan ini, dia menjalani training di Jakarta untuk mendapatkan lisensi penerbangan pesawat komersial, Airbus seri A320. Beasiswa dari pemkot tersebut diberikan kepada warga miskin Surabaya. Tentu tidak sembarangan. Mereka juga berprestasi. Sebab, seleksi beasiswa itu melalui proses yang cukup panjang. ”Setelah wisuda September. Dua bulan ini di rumah mempersiapkan semuanya sebelum training,” kata Rizal.

Momen kebersamaan di rumah itu pun dimanfaatkan betul oleh Rizal dengan keluarganya. Sebab, selama pendidikan penerbangan di Banyuwangi, dia dikarantina dua tahun. Pulang kampung hanya setahun sekali saat Lebaran. Setelah lulus, dia juga akan menjalani training sekitar 6–8 bulan. ”Rasanya berat pisah dengan keluarga lagi. Tetapi, demi masa depan. Demi mengubah nasib keluarga juga,” ujarnya.

Rizal juga tidak pernah malu membantu ayahnya yang bekerja sebagai kuli batu. Rasa tanggung jawab sebagai seorang kakak untuk membantu orang tua juga dibiasakan sejak kecil. ”Waktu kecil, saya juga sering mengantar dagangan cilok ibu ke kantin sebelum berangkat sekolah,” kata dia. Sebelumnya, ayah Rizal bekerja di pabrik. Namun, setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), ayahnya akhirnya bekerja kuli bangunan. Proyek yang dikerjakan pun tidak pasti. Kadang ada, kadang tidak. Ibunya hanya ibu rumah tangga. Namun, di sela-sela waktu mengurus anak, ibu Rizal membuat cilok untuk dipasarkan di kantin-kantin sekolah.

Meski kondisi perekonomian keluarganya sangat kurang, orang tua Rizal selalu mengutamakan pendidikan. Sejak kecil, Rizal mengenyam pendidikan di sekolah Islam. Begitu juga SMP. Dari situlah, fondasi agama Rizal terbentuk. Rizal kecil mulai terlihat sangat aktif. Saat SD, dia akrab dengan lomba-lomba. Baik lomba pidato bahasa Inggris, ikut audisi pemilihan dai cilik, maupun lomba manasik haji. ”Setiap ada peluang, saya pasti ikut,” katanya.

Sejak sang ayah di-PHK, Rizal mulai mandiri dan tidak ingin merepotkan orang tua. Ketika masuk SMAN 19 Surabaya, salah satu sekolah favorit di Surabaya, dia berusaha menyisihkan waktu untuk bekerja.

Rizal bekerja sebagai pelayan di Hotel Sheraton dan di sebuah katering. ”Setiap Sabtu dan Minggu saya bekerja. Senin-Jumat sekolah,” ujar dia. Penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya.

Rizal mengatakan, sejak kecil, dirinya sangat suka belajar. Dia juga mengikuti kegiatan les di luar sekolah. Biayanya dipenuhi dari hasil bekerjanya setiap akhir pekan. ”Alhamdulillah bisa. Pokoknya, enggak merepotkan bapak dan ibu,” kata dia.

Kegigihan itu membuahkan hasil. Pada saat kelas XI SMA, dia melihat pengumuman yang ditempel di papan sekolah. Awalnya, Rizal kurang tertarik. Sebab, dia ingin menjadi TNI/Polri. Namun, gagal. Lantaran ada temannya yang mengajak, dia mendaftar beasiswa pilot yang ada di pengumuman itu. ”Saya menemani teman saya melengkapi administrasi,” ujarnya. Awalnya, Rizal kurang percaya diri untuk mendaftar pilot. Sebab, untuk menjadi pilot, dibutuhkan biaya yang cukup besar. Sementara itu, ekonomi keluarga tidak mampu. Setelah mendaftar, tidak ada kabar dari pemkot. ”Saya menduga tidak diterima,” katanya.

Sambil menunggu pengumuman yang tidak kunjung datang, dia tetap mendaftar ke perguruan tinggi negeri (PTN). Melalui seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN), Rizal diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Jurusan Ilmu Keolahragaan dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Jurusan Multimedia Broadcasting. ”Saya akhirnya memilih Unesa,” ujar dia.

Sudah masuk satu semester, tiba-tiba ada pengumuman dari pemkot bahwa dia diterima beasiswa pendidikan pilot. Antara senang dan bingung. Sebab, dia sudah diterima di Unesa. Bahkan, sudah mengikuti perkuliahan. ”Akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil beasiswa pilot karena lebih menjanjikan untuk masa depan,” katanya. Keputusan Rizal sempat ditolak ibu dan neneknya. Sebab, pekerjaan pilot sangat berisiko. Setelah berdiskusi panjang sekeluarga, akhirnya orang tuanya menerima keputusannya mengambil beasiswa pilot. ”Saya langsung ikuti serangkaian tes,” ujarnya.

Tes tersebut meliputi tes tulis, wawancara, bakat terbang, samapta, dan kesehatan. Saat diterima, dia juga dipanggil Wali Kota Tri Rismaharini. Seangkatannya, ada empat pemuda Surabaya lain yang mendapatkan beasiswa pilot. ”Ibu Wali memberikan amanat yang cukup berat. Kami diwanti-wanti untuk serius belajar karena beasiswa ini uang rakyat,” kata dia.

Selama dua tahun dikarantina di BP3B, Rizal serius belajar. Dia tidak ingin mengecewakan wali kota yang sudah memberikan kesempatan yang sangat besar untuknya. Begitu juga orang tuanya yang selalu mendoakannya. ”Saya selalu ingat bahwa saya bukan anak orang kaya. Jadi, tidak boleh main-main saat pendidikan,” ujarnya.

Kini mungkin Rizal tidak bisa meraih impiannya menjadi TNI/Polri. Namun, dia mengaku bersyukur bisa menjadi calon pilot. Bahkan, tidak pernah terbayang sebelumnya akan menerbangkan pesawat komersial dengan membawa banyak penumpang. ”Sebelumnya, saya belum pernah naik pesawat. Tidak ada uang untuk beli tiket pesawat,” katanya. Selama di karantina, Rizal ternyata sangat menyukai dunia penerbangan. Apalagi ketika praktik menerbangkan pesawat latih Cessna 172 SP. Rasanya menyenangkan. Total, dia sudah memiliki pengalaman 179 jam terbang. ”Kalau sudah jadi pilot komersial, saya bercita-cita ingin membawa orang tua saya naik haji,” ungkapnya.

Rizal pun tak mau melupakan masa lalunya. Dia tetap ingin membantu anak-anak di sekitar rumahnya sampai sukses. Tentu dalam hal pendidikan. Selain itu, dia ingin membantu anak-anak berkebutuhan khusus yang berada di bawah asuhan dinas sosial (dinsos). ”Setelah mengangkat derajat keluarga, saya harus membantu orang lain. Bagaimanapun, saya dulu juga dari orang yang kurang mampu,” katanya.

Mendengar cita-cita mulia tersebut, orang tua Rizal langsung mengamini. Syahdan dan Tutik justru semakin bangga kepada anaknya itu. Kedua adiknya pun demikian. Di ruang tamu yang mungil tersebut, keluarga kecil itu melanjutkan diskusi ringan. Tentang masa depan Rizal dan kedua adiknya.(*/c6/dos)





Berikan Komentar

Features Lainnya
MEMAHAMI KONTRAK SEPIHAK DALAM KREDIT PERBANKAN
MEMAHAMI KONTRAK SEPIHAK DALAM KREDIT PERBANKAN
Jum'at, 19/10/2018 11:29 WIB
Pada umumnya bentuk perjanjian kredit dalam dunia perbankan berbentuk perjanjian standardd, yang mana dalam perjanjian standard syarat-syaranya sudah ditentukan secara
Gelar Pat Ngiat Pan & Potret 100 Boen Toe
Gelar Pat Ngiat Pan & Potret 100 Boen Toe
Rabu, 26/09/2018 00:55 WIB
MUNTOK - Bertepatan dengan tradisi sembahyang bulan atau Pat Ngiat Pan, Heritage of Tionghoa Bangka (HETIKA) mengelar Potret Boen
Detik-detik Bunda Lompat ke Sungai saat Anak Diseret Buaya
Detik-detik Bunda Lompat ke Sungai saat Anak Diseret Buaya
Rabu, 11/07/2018 07:41 WIB
Rasimah (37), seorang ibu yang nekat terjun ke sungai di malam gelap untuk menyelamatkan buah hatinya dari cengkeraman buaya ganas.
Agar Masyarakat Tahu Panglima TNI dan Kapolri Kompak
Agar Masyarakat Tahu Panglima TNI dan Kapolri Kompak
Senin, 09/07/2018 12:06 WIB
Kemesraan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian semakin hari kian terlihat jelas. Beberapa foto yang beredar