Kesaksian Para Korban Runtuhnya Balkon Bursa Efek Indonesia (2-Habis)


Kesaksian Para Korban Runtuhnya Balkon Bursa Efek Indonesia (2-Habis)

Ada Yang Disentuh Sedikit Saja Langsung Kaget

    Bahkan korban yang lukanya tidak parah pun masih mengalami trauma berat. Universitas Bina Darma sudah menyiapkan konseling untuk para mahasiswanya sepulang mereka ke Palembang kelak.

SAHRUL YUNIZAR, Jakarta

    DENGAN perlahan Melianjani membuka selimut. Menunjukkan kepada Jawa Pos beberapa goresan dan memar kebiruan di kedua kaki. ''Sampai sekarang masih sakit. Dari lutut ke bawah,'' kata mahasiswi Universitas Bina Darma, Palembang, Sumatera Selatan, itu Luka tersebut didapat Meli setelah menjadi salah satu korban ambruknya balkon Tower 2 Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin siang lalu (15/1). Ketika itu dia bersama puluhan rekan sekampus tengah menunggu lift saat balkon mendadak runtuh.

    Kejadiannya begitu cepat. Yang diingat Meli hanya bunyi krek, krek, sebelum kemudian balkon ambruk. Dan, sesudahnya hanya debu beterbangan. Bersama lima korban lain, Meli dirawat di lantai 5 Ruang Sangeang RSAL Mintohardjo, Jakarta Pusat. Sampai kemarin pagi (16/1), seluruh korban insiden BEI yang dirawat di ruangan tersebut masih tampak lesu.
    Luka-luka yang dialami mungkin tidak parah. Tapi, trauma akibat insiden yang mengakibatkan 77 orang terluka itu demikian membekas. ''Masih kaget,'' kata Meli. Mayoritas korban luka memang para mahasiswi Universitas Bina Darma (UBD) yang tengah melakukan kunjungan industri ke BEI. Total rombongan UBD beranggota 97 orang, termasuk empat dosen pendamping. Saat kejadian, sebagian rombongan berada di lobi di bawah mezanin atau balkon yang ambruk itu. Selain di RSAL Mintohardjo, para korban dirawat di beberapa rumah sakit lain yang tak jauh dari BEI.

    Septiani Fransisca, dosen UBD yang kemarin mendampingi di RSAL Mintohardjo, membenarkan masih membekasnya trauma di antara para korban itu. ''Ada yang disentuh sedikit saja langsung kaget,'' katanya. Septiani sedianya juga ikut rombongan ke BEI yang juga direncanakan melakukan kunjungan industri ke Bali dan Lombok. Tapi, dia batal ikut karena ada urusan keluarga mendadak. Betapa kagetnya dia ketika seorang kerabat mengabarkan musibah yang dialami para anak didiknya. Perempuan 29 tahun itu pun langsung menyusul ke Jakarta dengan penerbangan pukul 15.00. ''Sampai Jakarta langsung ke sini (RSAL Mintohardjo),'' ujarnya.

    Selain enam mahasiswi yang dirawat di lantai 5 Ruang Sangeang, masih ada sepuluh mahasiswi lain yang juga dirawat di RSAL Mintohardjo. Mereka dirawat di lantai 4 Ruang Tarempa. Yang berangkat dari UBD memang semua mahasiswi. Mereka semester V dan dari jurusan yang sama: akuntansi. ''Kebanyakan pasien trauma,'' ucap Septiani. Desi Agustin, mahasiswi UBD lainnya, misalnya, belum bisa melupakan bagaimana besi, beton, kaca, dan material balkon lain menindih puluhan mahasiswi UBD.
    ''Desi itu ketindih dua temannya, ketindih lagi besi,'' beber Almaini, kerabat yang menungguinya, kemarin. Nyeri kaki kanan langsung terasa setelah kejadian. Sedangkan sakit pada bagian bahu baru terasa kemarin. Agar lebih pasti, keluarga Desi meminta pihak rumah sakit melakukan rontgen. UBD, kata Septiani, sudah menyiapkan konseling untuk seluruh mahasiswi yang menjadi korban insiden BEI. Layanan itu telah disiapkan di Palembang.

    Rektor UBD Bochari Rachman yang kemarin menjenguk juga menyemangati para mahasiswi. Dia menegaskan, BEI sudah menjamin penuh seluruh korban bakal diobati sampai pulih. Andaikata fasilitas yang diberikan BEI belum cukup, sambung dia, UBD bakal turun tangan. ''Bina Darma bertanggung jawab,'' tegasnya. Bukan hanya Bochari, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Alex Noerdin pun ikut menjenguk korban insiden BEI di RSAL Mintohardjo. Untuk mencairkan suasana, Alex juga melempar beberapa kelakar.

    ''Selimutnya loreng-loreng, sudah kayak tentara ya,'' katanya. Mendengar guyonan tersebut, para korban tertawa ringan. Saat akan meninggalkan rumah sakit, Alex mengakui, mayoritas korban masih mengalami trauma. Tapi, mereka mendapat penanganan yang baik. Dia pun turut menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan tidak dibebankan kepada korban atau keluarga korban. ''Nggak perlu memikirkan biaya,'' tegasnya.

    Sebab, bukan hanya BEI dan Universitas Bina Darma yang memberikan jaminan kepada para korban. Pemprov Sumsel pun siap membantu. ''BEI tadi sudah berjanji. Kalau kurang, ada (Universitas Bina Darma). Kalau masih kurang, ada Pemprov Sumsel,'' terang Alex. Bahkan, pelayanan pasca kecelakaan pun sudah disiapkan. Tidak hanya di Jakarta, tetapi bisa dilanjutkan apabila pasien sudah pulang ke Palembang.  (*/c5/ttg)





Berikan Komentar

Features Lainnya
Detik-detik Bunda Lompat ke Sungai saat Anak Diseret Buaya
Detik-detik Bunda Lompat ke Sungai saat Anak Diseret Buaya
Rabu, 11/07/2018 07:41 WIB
Rasimah (37), seorang ibu yang nekat terjun ke sungai di malam gelap untuk menyelamatkan buah hatinya dari cengkeraman buaya ganas.
Agar Masyarakat Tahu Panglima TNI dan Kapolri Kompak
Agar Masyarakat Tahu Panglima TNI dan Kapolri Kompak
Senin, 09/07/2018 12:06 WIB
Kemesraan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian semakin hari kian terlihat jelas. Beberapa foto yang beredar
Kisah Agus, Sopir Truk yang Akhirnya Bertemu Presiden Jokowi
Kisah Agus, Sopir Truk yang Akhirnya Bertemu Presiden Jokowi
Rabu, 09/05/2018 08:02 WIB
Agus Yuda, seorang sopir truk, bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/5), setelah menempuh 729 kilometer selama 23
Gaji Rp 450 Ribu, Guru Honorer Semangat Kuliah S1
Gaji Rp 450 Ribu, Guru Honorer Semangat Kuliah S1
Senin, 07/05/2018 21:25 WIB
TANGSEL - Susandi, guru honorer SD Negeri Gunung Sari di Kabupaten Sukabumi, Jabar, tetap semangat menuntut ilmu dengan berkuliah lagi.