Heru PW, Radiografer Pehobi Aquascape


Heru PW, Radiografer Pehobi Aquascape

Ongkir Mahal, Urung Layani Pesanan dari Mauritius

Kesibukan Heru Purnama Wijaya sebagai radiografer di RSUD Nganjuk tak membuat kreativitasnya mati. Belajar otodidak, pehobi aquascape ini mampu memasarkan lampu hias aquascape buatannya ke seluruh Indonesia. Harga yang lebih murah dari produk impor membuat karyanya diminati banyak orang.

SRI UTAMI

Ruang tamu sebuah rumah di Perumahan Puri Mangundikaran Blok C3 No. 13 tak ubahnya workshop. Di dekat pintu ada etalase dengan panjang sekitar dua meter. Isinya, sejumlah spare part berukuran kecil yang jika diamati lebih dekat berwujud lampu light emitting diode (LED) yang disimpan di beberapa toples kecil.

Di dalam etalase itu juga banyak didapati potongan rangka alumunium hingga beberapa lembar acrilic. Di depan etalase, ada dua aquarium dengan panjang sekitar 60 sentimeter yang ditata berjajar.

Sepintas tidak ada yang aneh dengan aquarium di rumah pria yang tak lain adalah Heru Purnama Wijaya itu. Di dalam aquarium ada puluhan ikan hias kecil-kecil. Setelah dilihat lebih dekat, barulah diketahui jika aquarium itu berbeda dengan tempat memelihara ikan kebanyakan.

Tak sekadar berisi ikan dan bebatuan, aquarium itu juga berisi tanaman hidup yang ditata sedemikian rupa di kayu-kayu tua hingga membuat ikan seolah berada di habitat aslinya.

Di bagian atasnya ada lampu warna-warni yang membuat isi aquarium semakin terlihat cantik. “Ini aquascape,” kata Heru, sapaan akrab Heru Purnama Wijaya memberi penjelasan tentang seni menata tanaman, air, batu karang dan kayu di dalam aquarium itu.

Sejak kapan Heru gemar aquascape? Ditanya demikian, pria berusia 36 tahun ini mengaku gandrung dengan aquascape sejak 2014 lalu. Karena harga satu set aquascape yang mahal itu pula, ayah dua anak ini lantas belajar membuat aquascape sendiri dengan belajar secara otodidak lewat video tutorial di media sosial (medsos).

Dia juga bergabung dengan sesama pehobi aquascape di beberapa grup medsos untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Sekitar setahun belajar, pada 2015 lalu alumnus Universitas Airlangga ini tak hanya menguasai aquascape. Melainkan juga mampu membuat lampu hias aquascape.

Karena keterampilannya, PNS yang juga radiografer (petugas radiografi) di RSUD Nganjuk ini tak perlu merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk membeli lampu hias aquaspace. “Untuk aquarium dengan panjang 60 sentimeter ini buatan Jepang harganya Rp 16 juta,” lanjut Heru.

Belakangan, Heru tidak hanya membuat lampu untuk aquariumnya sendiri. Melainkan juga melayani pesanan. Untuk mengenalkan lampu buatannya, dia memasarkan produk secara online. Tak heran, pemesannya datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Setiap bulan, rata-rata dia mampu menjual hingga 30 unit lampu hias. Jika lampu aquascape sepanjang 60 sentimeter buatan Jepang dibanderol belasan juta rupiah, buatan Heru hanya seharga Rp 700 ribu. “Itu yang untuk high voltage (tegangan tinggi, Red). Kalau yang low light hanya sekitar 265 ribu,” urainya.      

Harga murah ini pula yang 2016 lalu sempat memikat pembeli dari luar negeri. Adalah pemesan dari Mauritius, negara kepulauan di barat daya Samudera Hindia yang ingin membeli lampu hias dari Heru.

Meski sempat senang karena produknya diminati orang luar negeri, Heru memutuskan tak melayani pesanan itu. Sebab, setelah dihitung lagi, ongkos kirim (ongkir) barang jauh lebih mahal dari harga lampu yang dipesan. “Ongkos kirimnya saja Rp 400 ribu,” kata Heru tersenyum mengenang pesanan pertama dari luar negeri itu.

Karenanya, saat ini Heru fokus melayani pesanan dari dalam negeri saja. Agar bisa memproduksi banyak lampu hias, kini dia dibantu temannya yang khusus bertugas memasang rangka alumunium.

Adapun pemilihan lampu LED yang akan dipasang tetap ditangani sendiri. Sebab, lampu hias satu dengan lainnya berbeda. Pun ukuran yang dipesan sama. “Menyesuaikan tanaman yang ada di aquarium. Kebutuhan cahaya tanaman kan berbeda,” urainya.

Untuk tanaman hairgrass, rotala, tonina dan tanaman tancap lainnya membutuhkan cahaya tinggi. Heru pun akan memilihkan lampu dengan warna merah, hijau dan biru dalam jumlah banyak untuk menghasilkan spektrum yang banyak.

Sedangkan untuk aquarium dengan tanaman anubias dan mos-mosan relatif membutuhkan cahaya yang sedikit untuk tumbuh dan fotosintesis.

Heru akan memperbanyak lampu LED warna putih. “Sebelum menggarap lampunya, saya harus tahu jenis tanamannya lebih dulu,” kata pria yang sempat impor spare part lampu dari Cina ini.

Dua tahun menekuni bisnis pembuatan lampu hias aquascape, Heru ingin membuat galeri aquascape di Nganjuk. Selain untuk memasarkan lampu hias buatannya, dia juga ingin lebih memasyarakatkan aquascape yang belum banyak dikenal di Kota Angin.(rk/rq/die/JPR)





Berikan Komentar

Features Lainnya
Kisah Agus, Sopir Truk yang Akhirnya Bertemu Presiden Jokowi
Kisah Agus, Sopir Truk yang Akhirnya Bertemu Presiden Jokowi
Rabu, 09/05/2018 08:02 WIB
Agus Yuda, seorang sopir truk, bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/5), setelah menempuh 729 kilometer selama 23
Gaji Rp 450 Ribu, Guru Honorer Semangat Kuliah S1
Gaji Rp 450 Ribu, Guru Honorer Semangat Kuliah S1
Senin, 07/05/2018 21:25 WIB
TANGSEL - Susandi, guru honorer SD Negeri Gunung Sari di Kabupaten Sukabumi, Jabar, tetap semangat menuntut ilmu dengan berkuliah lagi.
Suasana Haru Warnai Rapat Paripurna Istimewa HUT Kota Sungailiat
Suasana Haru Warnai Rapat Paripurna Istimewa HUT Kota Sungailiat
Minggu, 29/04/2018 21:59 WIB
Rapat Paripurna Istimewa HUT Kota Sungailiat, ke 252 berlangsung di gedung DPRD Bangka, secara tidak langsung memberikan pembelajaran bagi generasi
KEK Sungailiat Ditetapkan Tahun 2018
KEK Sungailiat Ditetapkan Tahun 2018
Jum'at, 20/04/2018 10:28 WIB
MENTERI PARIWISATA ARIEF YAHYA menandaskan sesudah mengunjungi KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Sungailiat Bangka, Jumat (13/4-2018) dalam jumpa pers di