Gaji Rp 450 Ribu, Guru Honorer Semangat Kuliah S1


Gaji Rp 450 Ribu, Guru Honorer Semangat Kuliah S1

TANGSEL - Susandi, guru honorer SD Negeri Gunung Sari di Kabupaten Sukabumi, Jabar, tetap semangat menuntut ilmu dengan berkuliah lagi.

Walaupun gajinya Rp 450 ribu per bulan tapi pria berusia 33 tahun ini tetap semangat menuntut ilmu. Awalnya tahun 2006 hingga 2009 menempuh studi D2 di Universitas Terbuka (UT). Karena tidak adanya biaya, Susandi vacuum kuliah beberapa tahun.

Baru pada 2015, dia melanjutkan studi S1 di UT. Tanpa seleksi, Susandi bisa kuliah kembali. Itupun hanya setiap Sabtu dan Minggu untuk tatap muka. Sedangkan pembelanjaran lainnya lewat online.

"Kalau ke tempat kuliah itu saya harus ke Cianjur karena di Sukabumi belum ada kelompok belajarnya," terang Susandi kepada JPNN di sela-sela seminar wisuda UT periode II, di Tangsel, Senin (7/5).

Dengan gajinya yang kecil, Susandi pun bekerja sampingan menjadi peternak kambing. Pernah suatu ketika harus membayar uang kuliah, dia menjual kambingnya. Namun begitu masuk semester VI, Susandi tidak lagi pusing dengan uang kuliah karena UT memberikan beasiswa selama 3 semester.

"Alhamdulillah saya sejak semester VI sampai VIII enggak perlu bayar uang kuliah Rp 1,7 juta per semester karena sudah diberikan beasiswa oleh universitas, " tuturnya.

Dia berharap dengan ijazah S1 ini menjadi modal baginya untuk masuk menjadi PNS. Pria berperawakan kurus ini enggan memilih kerja lainnya.

"Banyak guru honorer Sukabumi kuliah S1 di UT. Uang kuliahnya murah, kami tidak dites saat masuk, dan tidak mengganggu pekerjaan saya sebagai wali kelas. Misi kami ya harus jadi PNS," bebernya.

Kisah lainnya diutarakan Teddy Suryaman. Pria berusia 58 tahun ini baru meraih gelar S1 di usia senja. Awalnya guru PNS di SD Negeri Naya 3 Kecamatan Cibeder Kabupaten Cianjur menempuh program diploma. Lulus D2 tahun 1999, Teddy baru lanjut S1 di 2015.

Walaupun tinggal dua tahun lagi pensiun, Teddy masih semangat belajar. Selain tuntutan harus S1, dia ingin memberikan ilmu lebih banyak kepada siswanya.

Hebatnya, Teddy maupun Susandi tidak kesulitan menjalani pendidikan jarak jauh (PJJ) UT. Terbukti nilai keduanya didominasi A dan B.

"Ujiannya benar-benar ujian jadi bukan main-main. Kalau enggak belajar ya nilainya jelek. Ada juga teman kami nilainya jelek karena saat ujian enggak bisa mengerjakan apa yang diujikan," tutur Susandi yang diaminkan Teddy. (esy/jpnn)





Berikan Komentar

Features Lainnya
MEMAHAMI KONTRAK SEPIHAK DALAM KREDIT PERBANKAN
MEMAHAMI KONTRAK SEPIHAK DALAM KREDIT PERBANKAN
Jum'at, 19/10/2018 11:29 WIB
Pada umumnya bentuk perjanjian kredit dalam dunia perbankan berbentuk perjanjian standardd, yang mana dalam perjanjian standard syarat-syaranya sudah ditentukan secara
Gelar Pat Ngiat Pan & Potret 100 Boen Toe
Gelar Pat Ngiat Pan & Potret 100 Boen Toe
Rabu, 26/09/2018 00:55 WIB
MUNTOK - Bertepatan dengan tradisi sembahyang bulan atau Pat Ngiat Pan, Heritage of Tionghoa Bangka (HETIKA) mengelar Potret Boen
Detik-detik Bunda Lompat ke Sungai saat Anak Diseret Buaya
Detik-detik Bunda Lompat ke Sungai saat Anak Diseret Buaya
Rabu, 11/07/2018 07:41 WIB
Rasimah (37), seorang ibu yang nekat terjun ke sungai di malam gelap untuk menyelamatkan buah hatinya dari cengkeraman buaya ganas.
Agar Masyarakat Tahu Panglima TNI dan Kapolri Kompak
Agar Masyarakat Tahu Panglima TNI dan Kapolri Kompak
Senin, 09/07/2018 12:06 WIB
Kemesraan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian semakin hari kian terlihat jelas. Beberapa foto yang beredar