Home >

Menyoal Supersemar Dan Supertasmar


Oleh: Jimmy Frismandana
Alumni Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)
 
    BULAN
Maret dalam kalender sejarah Republik Indonesia merupakan salah satu bulan yang penuh dengan kontroversi sejarah. Mengapa? Karena tepat pada tanggal 11 Maret 1966 yakni 48 tahun yang lalu terjadi peristiwa besar dalam sejarah yaitu keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret yang kerap dikenal dengan sebutan Supersemar.
    Salah satu yang jarang diketahui oleh masyarakat luas Indonesia adalah adanya Surat Perintah Tiga Belas Maret (Supertasmar) 1966 sepanjang satu paragraf yang dibuat Presiden Soekarno kepada Letnan Jenderal Soeharto terkait penggunaan Supersemar oleh Soeharto yang dirasakan oleh Soekarno telah melampaui dari apa yang diperintahkannya pada Soeharto.
    Mengenai Surat Perintah Tiga Belas Maret, menurut AM Hanafi dalam bukunya yang berjudul Menggugat Kudeta Jenderal Soeharto: Dari Gestapu ke Supersemar, terbitan tahun 1998 itu, Sukarno mengirimkan surat kepada Soeharto yang terdiri dari tiga poin.
    Pertama, mengingatkan bahwa Supersemar 1966 itu sifatnya adalah teknis/administratif, tidak politik, semata-mata adalah surat perintah mengenai tugas keamanan bagi rakyat dan pemerintah, untuk keamanan dan kewibawaan Presiden/Pangti/Mandataris MPRS.
    Kedua, Soeharto tidak diperkenankan melakukan tindakan-tindakan yang melampaui bidang dan tanggung jawabnya, sebab bidang politik adalah wewenang langsung presiden, pembubaran suatu partai politik adalah hak presiden semata-mata. Ketiga, Soeharto diminta datang menghadap Presiden di istana untuk memberikan laporannya.
    AM Hanafi adalah Duta Besar Republik Indonesia utuk Kuba pada era Soekarno tepatnya pada tahun 1963-1965.
    Hanafi lahir di Bengkulu tahun 1918 dan meninggal di Paris, Prancis pada 2 Maret 2004. Hanafi adalah salah seorang dari sekian banyak tokoh Indonesia yang pernah dekat dan erat dengan Soekarno sehingga pascaperistiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965, mereka yang identik dengan Sukarnoisme niscaya dibuat ”mati” dan bagi mereka yang berada di luar negeri tidak dapat kembali lagi sehingga banyak yang pada akhirnya meninggal di tanah pengasingan walaupun dalam banyak literatur mengatakan bahwa mereka, para kaum eksil ini sangat ingin mati di tanah air Indonesia.
    Pastinya ini yang dinamakan sebagai “rasa cinta dan rasa rindu terhadap tanah air Indonesia tidak dapat digantikan oleh suatu apapun!”
    Surat teguran tersebut diantar Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II, J Leimena kepada Soeharto. Sebelumnya diperbanyak sebanyak 5.000 lembar untuk kemudian disebarluaskan.
    Menteri Penerangan Achmadi yang mengatur pembagiannya. Akan tetapi, tidak ada media massa yang mau menyebarluaskan.
    Mengenai hal ini, A Pambudi dalam bukunya yang memiliki judul menarik yakni Supersemar Palsu menulis: Soebagio Anam, yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Biro Penerangan Departemen Transmigrasi dan Koperasi, menyebut dirnya sempat membaca surat pelurusan itu pada 14 Maret 1966 siang.
    Surat yang ia baca itu titipan Leimena kepada Soetjipto Joedodihardjo, Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian, untuk disampaikan kepada Menpen Achmadi.
    “Saya membacanya waktu itu, lalu mengetik ulang untuk disebarkan. Ternyata, orang-orang sudah tak mau membacanya lagi. Dan, media massa pun tak ada yang mau memuatnya,” kenang Soebagio Anam.
    Leimena pun kembali melapor kepada Soekarno bahwa ia telah melakukan apa yang diamanatkan Soekarno padanya. Menurut Leimena, Soeharto membaca Surat Perintah Tiga Belas tersebut.
    Kemudian Soeharto mengatakan bahwa semua tindakan yang dilakukan adalah tanggung jawabnya sendiri. Mendengar laporan Leimena, Sukarno terdiam.
    Semua terdiam termasuk Hanafi yang juga hadir. Leimena pun menunduk melihat lantai. Hanafi memberi komentar dalam bukunya, “Menurut kamus politik, jawaban Soeharto itu artinya coup d’etat alias kudeta.” Minimal, kalimat Soeharto itu sudah dapat dianggap sebagai pembangkangan terhadap atasannya, Soekarno.
    Dalam kasus ini, salah satu budaya buruk dan jelek yang membudaya di negara ini adalah tidak menghargai arti penting dan nilai luar biasa dari dokumen sejarah.
    Surat maha penting Supersemar saja bisa raib entah ke mana sampai dengan detik ini. Apalagi dengan Supertasmar yang begitu saja hilang ditelan dimensi waktu yang bahkan fotokopinya saja belum pernah diperlihatkan kepada rakyat Indonesia!
    Pertanyaan selanjutnya adalah kejutan dan rahasia apa lagi yang akan mengikuti Supersemar dan Supertasmar nantinya? Jean Racine (1639-1699), penulis drama dan sandiwara asal Prancis mengatakan “there are no secrets that time does not reveal” yang berarti tiada rahasia yang tak terungkap oleh waktu. Waktulah yang akan mengungkapkan segalanya.(**)
    



Berikan Komentar

Lainnya