Cawako Perempuan Turunkan Angka Golput


Cawako Perempuan Turunkan Angka Golput

Rikky Fermana | Penggiat Pers Bangka Belitung

PEMILIHAN Walikota Pangkalpinang periode 2018-2023 yang digelar pada 27 Juli 2018 sudah berlalu. Pilkada serentak yang diselenggarakan di 171 daerah (17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kota) bagi kota Pangkalpinang tampak lebih menarik dibandingkan dengan Pilwako Pangkalpinang digelar pada tahun 2013 silam.

Mengapa tidak?, dari 4 pasangan calon walikota yang maju di Pilwako Pangkalpinang  2018 ini muncul nama Endang Kusumawaty sebagai satu-satunya calon walikota Pangkalpinang yang di usung oleh 4 partai politik besar (Partai Golar, Partai Demokrat, PAN dan PKB).

Kemunculan calon walikota Pangkalpinang dengan nomor urut 4 tersebut dianggap mampu mendongkrak pemilih perempuan untuk lebih aktif datang ke TPS pada hari pencoblosan.

Dari data hasil rapat pleno KPU Pangkalpinang digelar di Swiss Bell Hotel, Kamis (5/7/2018) Jumlah Pemilih di Pilwako Pangkalpinang 2018 sebanyak 129.300 pemilih dengan pembagian pemilih laki-laki sebanyak 64.203 pemilih dan pemilih perempuan sebanyak 65.097 pemilih.

Jumlah ini setelah dilakukan pencoblosan pada 27 Juli 2018 terdata sebanyak 79.033 pemilih yang menggunakan hak pilihnya dengan pembagian 37.450 pemilih laki-laki dan 41.583 pemilih perempuan.

Berdasarkan data tersebut jumlah pemilih perempuan yang menggunakan hak pilihnya jauh lebih besar dibanding dengan jumlah pemilih laki-laki. Fenomena tersebut bisa jadi jumlah pemilih perempuan lebih aktif menggunakan hak pilihnya pada Pilwako Pangkalpinang  2018 ini dikarenakan ada calon walikota Perempaun yang maju sebagai kandidat, meskipun partisipasi pemilih perempuan tidak 100 persen memilih cawako perempuan, namun setidaknya partisipasi aktif pemilih memberi contoh yang baik pemilih laki-laki.

Dengan naiknya partisipasi pemilih perempaun ini maka secara otomatis menurunkan angka Golput bila dibandingkan Pilwako Pangkalpinang pada tahun 2013. Jumlah Golput pada pilwako 2018 ini tercatat sebanyak 50.267 pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya atau sekitar 44,76 persen. Sedangkan pada 2013 lalu jumlah angka Golput  sebesar 52,26 persen, artinya angka Golput di pilwako 2018 ini turun 7.5 persen dibandingkan tahun 2013.

Ketua KPU Pangkalpinang tahun 2013, Sukartono mengakui partisipasi pemilih dalam Pilkada Kota Pangkalpinang tahun 2013 pada putaran pertama kurang dari 50 persen. Dari total 193.502 pemilih yang tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT), hanya 66.460 orang atau 47,64 persen yang menggunakan hak pilihnya.

Sementara masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya atau golongan putih (Golput) pada pemilihan wali kota dan wakil wali kota tersebut mencapai 52,26 persen.

Meski keberadaan calon walikota perempuan bisa menekan angka Golput, namun sifat masyarakat kota Pangkalpinang yang lebih cenderung transaksional dan memiliki budaya "dak kawa nyusah" (malas, red) ke TPS juga menjadi salah satu penyebab tingginya penyumbang angka Golput pada setiap Pilkada dan Pemilihan Umum. Sehingga Golput tetap menjadi pemenang disetiap Pilkada.
Untuk Pilwako Pangkalpinang  2018 ini saja Pemenang Pilwako yaitu Molen-Sopian yang meraup suara sekitar 45,30 persen hanya menang tipis bila dibandingkan dengan Golput yang mencapai 44, 76 persen.

Dari data analisi tersebut, beberapa indikator yang dapat disimpulkan ialah sebagai berikut, pertama masih kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap Paslon yang diusung pada Pilwako Pangkalpinang  2018 oleh partai pengusung maupun jalur independent dikarenakan figur yang maju tidak mendukung dan tidak memberikan kontribusi  nyata pada masyarakat Pangkalpinang menjelang kampanye maupun pencoblosan.

Kedua, masih adanya sifat masyarakat yang "dak kawa nyusah" atau malas ke TPS bila tidak ada uang transport. Ketiga, terjadinya politik uang sehingga masyarakat pemilih tidak memandang visi misi dalam memilih calon walikota. Meskipun pada Pilwako 2018 ini munculnya calon walikota perempuan menjadi semangat yang berbeda bagi kaum perempuan untuk datang ke TPS.

Keempat, tingginya angka Golput yang hanya berbeda tipis dengan pemenang Pilwako dirasakan menjadi kurangya legalitas calon terpilih karena belum mencapai 50 persen dari data pemilih yang ada.

Meskipun Golput masih mendominasi, namun calon terpilih diharapkan menjadi calon yang terbaik bagi masyarakat Pangkalpinang dan kedepan peran serta KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilihan diharapkan juga dapat berupaya lebih keras mendorong partisipasi masyarakat untuk memilih agar Golput tidak mendominasi dalam setiap Pilkada dan Pileg. (*)





Berikan Komentar

Perspektif Lainnya
Impeachment atau Pemakzulan Kepala Daerah
Impeachment atau Pemakzulan Kepala Daerah
Selasa, 27/03/2018 00:40 WIB
PENYELENGARAAN pemerintahan daerah sejatinya tunduk pada UU No. 32 Tahun 2004. Undang-Undang Pemerintahan Daerah ini dari hari waktu ke waktu
ICDX, Diantara Pro dan Kontra
ICDX, Diantara Pro dan Kontra
Senin, 21/08/2017 07:27 WIB
Meski sudah ada sejak 2013, keberadaan Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (Indonesia Commodity and Derivatives Exchange/ ICDX) ternyata masih menuai
Potret 72 Tahun Indonesia Merdeka
Potret 72 Tahun Indonesia Merdeka
Senin, 21/08/2017 04:18 WIB
BEBERAPA bulan terakhir, Indonesia ditimpa oleh berbagai masalah krusial, yang membuat pemerintah belum dapat mengantarkan negara ini ke arah yang
Tiga Tantangan Dasawarsa Kelima
Tiga Tantangan Dasawarsa Kelima
Jum'at, 11/08/2017 01:53 WIB
TIGA perkembangan mengemuka seiring dengan perjalanan ASEAN memasuki dasawarsa kelima. Selain mengemukakan konfigurasi aktual, ketiganya mengetengahkan tantangan yang tidak mudah.